Secarik Surat Cinta

Secarik Surat Cinta

Advertisements

Untuk putriku Ananta Nailah. Ayah masih ingat ketika ananda pulang sendiri dari sekolahmu di Padang Panga, betapa ayah gusar bukan kepalang ketika melihatmu menenteng tas dan botol air di setapak sepi itu. Tapi justru semburat senyum di wajah mungilmu meluruhkan was-was ayah. Itu 11 tahun lalu.

Lima tahun ini ananda berada jauh dari rumah. Di sebuah pondok tahfiz di tengah hiruk-pikuk kota Makassar. Kami tahu bahwa tekad besarmulah yang membawa kakimu ke sini. Nanda memiliki cita-cita atau impian meninggi. Suatu hari saat kita bercakap-cakap nanda mengatakan itu. Tahukah bahwa itu amat menggetarkan hati ayah. Tahukah bahwa doa-doa ayah ingin melihatmu menggapai itu sebelum ajal lebih awal datang.

Dalam rindang kasih sayang para ustadzah yang membimbingmu saban hari. Di rumah mungkin nanda tidak akan menemukan teman-temanmu yang hebat itu. Yang juga tulus meninggalkan keriangan rumah dan menepikan kesenangan masa kecil seusiamu.

Ayah percaya, kemulian manusia tak dapat diraih begitu saja. Sementara dunia yang sedang berpendaran ini amatlah keras dan menggoda. Ayah mungkin tak mampu berdiri kokoh sebagai pemandu di jalan amat lapang ini, tapi percayalah ayah dan ummi akan terus berdiri di sisimu dalam perjuangan sungguh tiada ternilai. Sepanjang hari kami terus mendaras doa dalam sembap munajat.

Putriku engkau sedang mengumpulkan butir-butir permata dan mutiara yang kelak akan dikau semat di mahkota lebih terang dari matahari. Setiap huruf, kata dan ayat-ayat Rabb yang membuatmu lelah, atau berdiri di tubir malam sebagai ikhtiar utama akan menjadi saksi perjalananmu. Ayah, ummi, adik-adikmu menanti setiap canda, cerita, dan rindumu yang selalu ingin kembali ke rumah kita di madrasah pertamamu.

Mamuju, 19/12/2019

(Surat Cinta ini adalah surat yang dikirim untuk memotivasi santri yang akan ujian pondokan)

error: Content is protected !!