Jurnal Warga

Latest

Selarik Kisah Perjalanan dari Utara

Advertisements

Oleh Adi Arwan Alimin

WIN 100. Itu motor Honda legendaris yang pernah penulis miliki. Kedua rodanya sudah menjejak hampir semua jalur utama di Sulawesi Barat. Dari lajur Paku hingga Suremana.

12 tahunan berselang, bersama Sulaeman Rahman Pemred Mingguan Mamuju Pos penulis menjajal rute Mamuju-Pasangkayu. Pada usia Sulbar yang masih lucu-lucunya itu, kami berdua menyusuri jalanan yang masih berkerikil dan tentu sangat berdebu.

Penulis mewakili Radar Sulbar sedang Sulaeman Rahman yang mantan wartawan Harian Fajar Biro Mamuju ini, menenteng urusan mingguan yang dibaca sampai ke Polewali Mandar kala itu. Perjalanan ini tentu saja dalam rangka pengembangan usaha atau kerja sama dengan berbagai pihak termasuk ke wilayah paling utara ini.

Kami berangkat awal pagi dan sampai jelang maghrib. Sebab sebagian jalanan bertanah yang masih setipis dua mobil minibus dan kondisinya yang tak selaik hari ini, jadilah jaket dan ransel berwarna hitam menjadi cokelat begitu kami tiba. Kaca helm pasti memburam.

Sulaeman yang sudah berkali-kali ke Pasangkayu memang bercanda sebelumnya. Bahwa jaket, tas bahkan motor yang kami kendarai akan berganti warna bila telah sampai. Itu ternyata benar. Debunya hampir sekian milimeter dan harus dikibas-kibas agar tampak baru saat bertemu sejumlah kalangan.

Perjalanan melewati satu dekade itu tak lagi seperti hari ini. Bila dahulu kami tempuh hampir satu hari penuh, kini kondisinya jauh lebih baik. Bayangkan saja bila naik motor berdua dengan jarak hampir 300 kilometer pergi-pulang. Apalagi bila anda yang duduk di belakang.

Karib yang sama-sama aktif di kepengurusan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Sulawesi Barat, sambil bermotor ia terus mengisahkan banyak hal tentang area Mamuju kota hingga Pasangkayu. Dan begitu sampai tahulah saya bahwa Sulaeman memang banyak dikenal orang-orang di sini. Ia pun mengenalkan penulis pada beberapa tokoh lokal.

Distribusi surat kabar baik Harian Fajar dan Mamuju Pos ke berbagai pelosok membuatnya dikenal sebagai reporter lapangan piawai. Sebuah laporan investigasi mengenai pengelolaan pelabuhan yang terbit beberapa hari di Fajar Makassar menegaskan kompetensinya.

Perjalanan saya naik motor ke Pasangkayu bersamanya untuk mempromosikan Radar Sulbar adalah kedatangan pertama penulis ke Vovasanggayu.

Lawatan yang hampir sama saat penulis bersama Harly Mulyadi, wartawan Tabloid Sandeq Pos dan Suara Demokrasi memasuki kota Mamuju pada awal tahun 2000-an (Insya Allah kisah lengkapnya di kesempatan lain).

Bedanya bersama Harly yang kini berprofesi guru di Campalagian, Polewali Mandar, ke Mamuju saat itu kami harus membawa pompa dan peralatan untuk mengantisipasi ban bocor di jalan. Itu mesti diikat karet hitam di ujung sadel.

*

Penulis membuat catatan ini dari sisi jendela sebuah penginapan sederhana di tepi jalan raya Pasangkayu. Melihatnya bergeliat saat matahari telah sepenggalah. Jalanan sibuk dalam hilir mudik.

Beberapa tahun lalu orang-orang sebagian masih diliputi rasa takut melintasi jalur memanjang hingga ke kota ini. Semua itu perlahan berganti harapan yang memuncaki masa depan.

Mamuju Utara yang kembali bernama Pasangkayu ini bukanlah wilayah di ujung pandang Sulawesi Barat. Di sini orang-orang berprofesi kian beragam, bersuku-suku dalam berdialek berbeda. Keragaman ini kekayaan sejati yang direntang di atas buminya yang subur.

Penulis dirayapi ingatan bagaimana harus bersusah payah menggeber motor dalam debu bahkan hujan mengguyur bersama Sulaeman. Kota ini memiliki nafas kearifan yang lahir dari jejak peradaban adiluhung. Memiliki hikayat lampau yang ditenun bersama selaksana rupa-rupa kebajikan.

Kabupaten ini gabungan dari Kecamatan Pasangkayu, Kecamatan Sarudu, Baras, dan Bambalamotu yang pernah menjadi bagian dari Kabupaten Mamuju sebelum dimekarkan pada tahun 2001.

Pasangkayu, 28 Februari 2020

Ilustrasi : parjo.id

Selarik Kisah Perjalanan dari Utara

The Latest

To Top
error: Content is protected !!