Jurnal Warga

Destinasi

Sharing di Parigi, dan Baalas Itu…

Bakda subuh ketika bertemu di depan kantornya, ada celutukan dari stafnya bahwa mini market di sebelah kantornya adalah KPU “Finance”. Penulis menyebutnya ibarat koperasi KPU, maklum Alfamidi ini jauh lebih luas dibanding kantor KPU yang urusannya malah menyangkut hajat sosial politik se-Sulawesi Tengah.

Oya, di Selasa malam itu, saat penulis sedang menonton laga Indonesia-Thailand, di kamar 117 gempa dengan skala 3,4 SR sempat mengguncang sekali. Goyangannya tidak begitu kuat, namun terdengar gemuruh dari bawah tanah. Tadinya menduga itu hanyalah bagian dari rasa lelah karena berkendara dari Mamuju sejak pagi, namun Yusuf juga mengatakan merasakan gempa. Alhamdulillah itu hanya sekali, padahal dibenak penulis ingin segera menghambur keluar bila terjadi gempa susulan. Titik gempanya sekitar 10 kilometer dari posisi kami.

*
Lalu bakda subuh kami telah berkumpul di depan kantor sementara di Sisingamangaraja itu. Perjalanan ke Manado ini harus dikebut pagi-pagi sebab jalur menuju “Kebun Kopi” yang memiliki kontur yang hampir sama dengan jalur Tappalang-Mamuju atau Polewali-Mamasa memiliki jadwal Buka-Tutup. Trans Sulawesi ini sedang dikerjakan. Lereng gunung, atau jalur menukiknya dikontruksi sedemikian rupa, hingga meninggalkan kesan indah. Di sejumlah titik kita dapat melihat hampar Teluk Palu dari ketinggian Donggala barat ini. Pohon-pohon cengkeh yang sudah berumur masih tegak di sisi gunung. Kayu-kayu yang tumbuh dengan diamater besar juga banyak di sisi trans.

Setelah sejaman melewati jalur ini, rombongan kami dari kota Palu berkumpul di titik singgah Parigi. Tepatnya di rest area SPBU Tolibu, tim dari 13 KPU Kabupaten se-Sulteng telah menanti. Penulis melihat jejeran belasan roda empat terparkir. Sekitar 50 orang kemudian menyambut. Pemandangan yang membuat penulis haru, karena tak datang dengan kekuatan full seperti ini. Tapi penyambutan yang sangat bersahabat di sini langsung mengaburkannya. Kami berbaur seperti saudara tua yang baru bertemu. Suasana menjadi makin meriah sebab Kordiv Sahran rupanya berulang tahun tanggal 11 September. Penulis dari awal melihat beberapa staf sibuk menyalakan lilin, tapi tidak tahu akan diberikan ke siapa. Itu kejutan yang dibuat untuk kordivnya.

Kopi hitam, lalampa semacam lemper khas Sulteng, nasi goreng, buras dihidang di meja memanjang. Coffee morning Parigi pun dimulai. Sambutan selamat datang disampaikan Ketua KPU Parigi, dilanjutkan paparan Kordiv Parmas Sulteng Sahran Raden, Sulbar juga didaulat menyampaikan beberapa poin perihal sharing knowledge.

Saat menikmati lalampa, juga seikat buras serta sambalnya teman-teman berbisik, “Ini baru baalas pak.” Kosa kata baru bagi penulis, rupanya ini belum masuk kategori sarapan. Baru sekadar mengalas atau mengganjal. (*)

Pages: 1 2

The Latest

To Top
error: Content is protected !!