“Sianang”, Kedai Soto Ayam Legendaris Itu

admin
Advertisements
Oleh: Adi Arwan Alimin
HASANAH kembali mengenang asal mula warung sotonya. Ia tak pernah menduga keputusannya untuk berumah di area yang masih sangat sepi kala itu, kini amat ramai. Hanya dibatasi dua lajur jalan, dan pagar besi, rumahnya berantara dengan kantor Bupati Polewali Mandar.
“Puang sayyek yang menyuruh saya mendirikan rumah di sini. Awalnya saya di depan jalan itu, tapi diminta menggeser karena akan dibangun jalan,” tutur Hasanah perempuan yang telah berumur 68 tahun. Puang Sayyek yang disebutnya tidak lain, Said Mengga, sosok yang juga kerabatnya dari Lawarang. Bupati Polewali Mamasa era 1980-an.
Selasa pagi, 27 November, penulis mampir di warung ini. Sejak masa magang reporter tahun 1990-an, tempat ini semacam oase paling mengenyangkan usai mengitari Polewali dan sekitarnya. Kini, soto ayamnya yang disuwir dari ayam kampung masih terasa sangat asli. Ori banget di lidah.
Hasanah mesti telah beruban, namun masih cukup sehat dan memiliki ingatan yang bagus. Seorang karyawan perempuannya bahkan menyelutuk, “Hasanah lebih sehat dibanding mereka.” Ia juga amat ramah menyapa setiap pengunjung warungnya.
Belasan menit ia bersedia bercerita tentang kisah hidupnya. Padahal sebelum penulis datang, ia juga tanpak bercengkrama dengan empat pengunjung lain, yang merupakan sejumlah guru di Pekkabata. Mereka sangat akrab satu sama lain.
“Untungnya tidak banyak sejak dulu. Ya begini-begini saja, sebab saya menggunakan ayam kampung. Orang-orang bilang kenapa tidak membangun rumah lebih tinggi. Saya bilang ambil darimana uangnya,” tambahnya lagi.
Menurutnya, kawasan sekitar kantor Bupati Polman itu dahulu sangat sepi. Hanya ada perkebunan kelapa yang luas. Sehingga sebagian dari dua petak rumah yang dimilikinya diberikan kepada kerabatnya agar keluarganya memiliki tetangga di sana.
Kuliner yang dijajakan Hasanah dapat bertahan hingga kini. Rasanya yang khas seperti merawat ingatan setiap orang yang pernah datang mencicipi daging ayam yang menumpuk di mangkuk. Letaknya pun amat mudah dijangkau, jika pembaca melihat gerbang ke kantor Bupati Polewali Mandar, berbeloklah, lalu ambil kiri saat disimpang empat.
Apa yang menarik bagi penulis di “Sianang?” Pasti mengenai caranya meramu bawang goreng, seledri, sedikit bihun dengan seduhan kuah panas-panas. Ini yang amat berbeda di warung soto ayam lainnya, yang kerap disesaki “lassa” dan kol, dengan ayam suwir seadanya.
Hasanah patut mendapat bingkisan dari kita, dengan mengunjunginya saat jeda dari rutintas panjang setiap hari. Caranya menjaga kualitas menu dalam keaslian rempah, telah menjaga soto ayam tetap gurih berselera. Kedai ini terbuka setiap hari, meski di depannya terdapat warkop yang dikelola sang bungsu.
Ternyata kita masih dapat menemukan pelestari kuliner yang membuat penikmat soto ayam seperti penulis, tetap merasa penting untuk singgah. Maklum warung ini memiliki tautan mengesankan bagi banyak orang dalam pernak-pernik kisah mengerat kenangan. Mampirlah di spot legendaris ini.
Polewali, 27 November 2018
Next Post

WONOMULYO

Oleh: Adi Arwan Alimin Mereka bersama mimpi Pada lipatan masa Berduyun asa Di tanah Mandar kini Berpetak huma peladang Melintasi teluk Wajah ditekuk Terbayang selayang Bersuku-suku asalmu Melukis perjalanan Melewati nun Antara cakrawala Tibalah engkau dilampau Meniti jejak silam Di tanah baru Melukis kanvas malam Di tepi hutan jenggala Kau […]

Subscribe US Now