Silir Gamelan Bali Sebelum Jumatan

Silir Gamelan Bali Sebelum Jumatan

Advertisements

Oleh Adi Arwan Alimin

Saya lupa sudah berapa kali ke pulau ini. Sebuah kota yang hampir menjadi impian banyak orang untuk dikunjungi. Bali memang destinasi wisata papan atas di Indonesia. Meski melintasi dua provinsi kini cukup singkat untuk sampai di sini. Dari boarding siang via bandara Tampa Padang Mamuju transit di Makassar. Bila penerbangan normal jelang sore hari pembaca akan dapat menjejak kaki di Ngurah Rai, Denpasar.

Tanggal 6-8 Desember, penulis akan mengikuti agenda Rapat Evaluasi Kode Etik Penyelenggara Pemilu 2019 yang digelar Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) RI. Meski jadwalnya cukup sesak, sebab seperti itulah model acara di DKPP selama ini. Selalu padat, dan berlangsung dalam diskusi atau curah gagasan tentang penyelenggaraan Pemilu yang kental.

Tema utama forum akhir tahun di Bali ini, mengenai evaluasi kode etik penyelenggara Pemilu tahun 2019. Jumat malam, Doktor Harjono Ketua DKPP RI, menekankan urgensi untuk melakukan instrospkesi secara internal. Apakah pelaksanaan sidang-sidang dugaan pelanggaran etika penyelenggara sepanjang tahun di daerah selama ini telah berlangsung fair, dan menunjukkan signifikasi pada pemilu yang kian berkualitas.

Seperti biasa bila berkunjung ke sejumlah daerah, spot utama yang penulis cari di googlemap tentu masjid. Alhamdulillah ada masjid Nurul Huda sekitar 50-an meter di sisi kanan Sovereign hotel yang kami tempati. Rumah ibadah ini berada dalam kompleks bersama pura cukup besar, dan sebuah gereja milik GPIB “Ekklesia” yang berdiri menjulang. Posisi tiga rumah ibadah lain agama ini tepat di depan Taman Satria Gatot Kaca.

Lalu lintas lancar, orang-orang bebas berlalu-lalang seperti jelang jumatan kemarin. Jelang maghrib penjaja makanan ramai menjual beragam kuliner, di taman Gatot Kaca yang dilengkapi permainan air mancur warna-warni, banyak kelompok warga atau wisatawan mengambil foto. Sesekali pesawat udara yang lepas landas dan hendak landing melintas amat dekat di atas patung Gatot Kaca yang serasa terbang di atas kereta kencana yang ditarik kuda putih awan.

Namun ada yang terasa berbeda, saat jelang khatib Jumat mengantar khotbah. Lamat-lamat semilir gending gamelan merayapi udara siang yang terasa 41 derajat padahal di layar handphone tertulis suhu 33 satuan suhu. Seperti terdengar pelarasan yang berdengung dalam getaran ombak akustik. Mungkin itu dari perangkat gamelan perunggu sebab menghasilkan dentingan yang khas. Penulis bukan ahli musik jadi hanya menduganya demikian.

Usai bunyi dari pura yang hanya diantarai jalan dua lajur beraspal, khotbah Jumat pun dimulai. Awalnya mengira lantunan sebelum adzan itu rangkaian jumatan di Bali, seperti halnya panitia-panitia masjid yang membacakan undangan, pengumuman singkat atau laporan keuangan pembangunan. Rupanya nada itu sebagai ritual tersendiri, seperti mewakili lambang nilai yang melekati irama dan gerak kehidupan di sini.

Melihat pura di Bali seolah merentang ingatan ke wilayah Mamuju Tengah, Sulawesi Barat. Populasi warga Bali di daerah otonomi baru itu menyembulkan amat banyak tempat persembahyangan, yang berdiri diantara rumah ibadah lainnya pula. Semua itu melambangkan jalinan toletansi yang tetap terjaga. Meski dekade terakhir bangsa ini selalu dirundung hal yang mengguncang kebinekaan kita.

Sabtu pagi, bersama M. Danial, senior di dunia kewartawanan penulis menjajal rute area Ngurah Rah dan jalur ke pantai Kuta yang masih sepi. Hampir lima kilometer lajur berjalan kaki yang kami tekuri. Di sepanjang jalan menuju Sovereign betapa banyak limpah keramahan dari warga kota ini. Anak-anak sekolah sejak pagi hari pun bergegas ke sekolah, ada pemujaan pada Dewi “Saraswati”. “Ada ibadah memperingati hari turunnya ilmu pengetahuan,” kata bli Jhon Dermawan anggota KPU Bali semalam.

Denpasar telah menjadi surga destinasi bagi wisatawan dari berbagai negara. Pasar kunjungan yang sesungguhnya juga dapat dikelola di daerah lain. Bali tumbuh dari akar tradisi-budayanya yang kuat, serta beragam kreatifitas atas titik kunjungan lokal memukau, potensi yang telah mengundang hasrat jutaan orang ke pulau ini. (*)

Sovereign, 7 Desember 2019

error: Content is protected !!