Surat Cinta yang Tidak Terbaca

Surat Cinta yang Tidak Terbaca
Advertisements

Oleh Adi Arwan Alimin

JOIN Cafe ini tidak berada di tepi pantai, atau di sisi bukit. Tidak pula dibilangan marka jalan tengah kota yang sibuk. Namun mampu menampung kreasi maksimal panitia bedah buku, Sabtu, 12 Juni 2021.

Saya datang usai maghriban di masjid Merdeka Wonomulyo. Segera memarkir kendaraan yang relatif sepi di belakang terminal tak jauh dari Padi Unggul. Spot ini dahulu area persawahan tempat kami bermain jerami atau mencari ikan di irigasi.

Saat menjejak gerbang warung kopi ini, ekspektasi saya yang semula memusar pada agenda relatif biasa-biasa saja, berubah. Beberapa stan foto berfigura lebar dipajang. Berdiri di sejumlah sisi. Lampu-lampu meski petang baru saja tenggelam suasana Isya, seperti serbuan kunang-kunang. Gemerlap.

Sabtu malam, 12 Juni 2021 buku bertajuk Hasan Sulur: Surat Cinta yang Tidak Terbaca akan diluncurkan. Agenda ini telah dijadwalkan sejak akhir tahun 2020, suasana pandemi ikut membuatnya digeser hingga memuncak semalam.

Ratusan orang hadir di forum ini. Dari stage yang dipandu Masud Saleh, saya melihat ratusan kursi terisi dalam jarak mematuhi prokes, beberapa tampak di atas balkon, yang lainnnya bahkan berdiri di sana-sini. Saya tak dapat mengenali siapa saja yang hadir sebab kebiasaaan baru bermasker.

Buku Surat Cinta ini merupakan refleksi orang-orang dalam angle Hasan Sulur yang dikenal secara personal. Tokoh di buku ini yang berpulang setahun lalu rupanya memiliki tautan dan memori yang memikat pada sejumlah hadirin. Saya menyimaknya, mencatatnya di smartphone, sebagaimana saat menemui sejumlah narasumber yang meluangkan segenap ingatan untuk ditulis di buku ini.

Hasan Sulur lahir di masa Orde Lama, lalu menapaki masa depannya yang tidak jelas di awal periode orde baru. Ia ulung dalam lobi. Ia juga dapat diterima semua kalangan. Orang-orang mengenalnya sebagai sosok yang amat peduli. Tidak heran bila sejumlah fase dapat dilewati sangat monumenal, baik sebagai birokrat senior maupun politisi yang diperhitungkan.

Dalam banyak ingatan kawan-kawan atau sejawatnya, Hasan Sulur dianggap sebagai sosok yang mampu menerobos zamannya. Semalam orang-orang kembali mengenangnya sebagai figur yang melampaui pikiran orang lain.

Di mana pun sosok ini ditugaskan, sebuah pengakuan berupa prestasi akan dipersembahkannya. Hasan sarat gagasan sebagaimana ia selalu mampu menyulur semangat orang-orang di sekitarnya. Tak kuasa beberapa yang hadir menyeka kelopak mata, mungkin haru mengingat kepergian Hasan Sulur.

Mengapa Surat Cinta yang Tidak Terbaca menjadi pilihan judul dari buku ini? Itu sesungguhnya berangkat dari denotasi mengenai kisah asmara Hasan Sulur dan Dahara muda, yang di masa lalu diantarai surat cinta dari lelaki idaman ini.

Surat-surat cinta yang ditulis dalam karakter mencakari garis-garis kertas itu, surat cinta yang memalung. Amat dalam seperti samudera yang amat sulit diselami. Tak dapat dibaca sama sekali Dahara, hingga ia memiliki belasan cucu, tak sekalipun surat cinta Hasan Sulur muda itu pernah dibacanya. Tulisannya tak dapat dieja, sebagaimana ide-idenya melampaui rasa ingin tahu orang.

Surat Cinta yang tak pernah dibaca itu hanyalah jembatan abadi atas percintaaan, kesetian dan pengorbann hidup dua sosok ini. Apakah penting membincang surat cinta lagi bila dua hati tak lagi dapat dipisahkan? Apakah surat cinta itu masih memiliki arti pada hati yang tak pernah terganti.

Semalam, sebagai editor buku ini, saya masih duduk di sisi Hj. Dahara yang selalu penuh emosi bila membincang mendiang. Beberapa bulan lalu saat mulai menulis draf buku, Bunda Dahara masih memiliki energi yang sama. Sesekali ia menepis air matanya.

Hanya dialah yang benar paling memahami tentang figur Hasan Sulur. Cinta memang amat lekat bagi hati yang terpahat liat. Ahad siang kemarin kami masih bareng bercerita, semoga selalu sehat Bunda.

Polewali, 14 Juni 2021

error: Content is protected !!