Surat dari Masa Lalu

Surat dari Masa Lalu

Advertisements

Oleh : Adi Arwan Alimin

Aku menulis secarik tulisan ini, di hari kedua Lebaran Idul Fitri 1441 H. Saat orang-orang masih berdiam di rumahnya. Tak ada apapun yang serupa dengan perayaan lebaran tahun Hijriah yang lalu. Pagebluk Covid-19 benar-benar memaksa ritual sosial-religi seperti berhenti.

Aku menulis secarik surat ini jelang Maghrib hari lebaran kedua. Toples-toples tersaji di meja sepi tiada tetamu. Buras, rempeyek juga opor ayam telah landas sejak sore. Angin disertai gerimis bertandang menepuk-nepuk atap seng rumah kami. Sementara pintu depan terkunci. Jalanan sepi seolah menepikan semuanya.

Aku menulis untuk mengingatkan saya, juga anak cucu nanti. Bahwa pada suatu masa, konon dari barat laut asal mula datangnya huru-hara yang membuat negeri ini hampir saja tiarap. AS dan China, dua naga besar di planet kita masih bertengkar tentang muasal kegentingan ini. Wabah yang dibawa oleh entah siapa itu benar merubung setiap jiwa dalam ketakutan. Kematian serasa dekat sekali.

Mengapa virus ini begitu amat mematikan dibandingkan ancaman kesehatan lainnya. Setiap sore hari dalam dada cemas kita menanti simpulan juru bicara mengenai berapa yang terpapar, terkapar dan berkalang tanah.

Rumah sakit, dokter dan paramedis telah berbulan-bulan berjibaku di ruang amat steril untuk memastikan bahaya ini dapat dikendalikan. Tetapi sampai 100 hari semuanya tak dapat diprediksi kapan berakhir. Obat untuk flu mematikan ini belum ada obatnya.

Saya amat khawatir bila persoalan pelik karena faktor mahluk lebih kecil dari renik itu tak juga usai atau melandai, dokter juga perawat akan makin lelah. Rumah sakit hingga puskesmas bakal penuh. Lalu tibalah hari-hari yang tak dapat kita pikirkan. Bahwa setiap orang mungkin akan menyelamatkan diri dari marabahaya sambil memanggul buntalnya.

Aku menulis ini agar kelak dibaca sebagai epigram. Bukan sebagai wasiat tetapi gambaran kecemasan tentang pekan-pekan yang tak pasti. Sungguh banyak hal telah tertunda, terjeda hingga terhenti akibat Covid-19. Pada akhir usia nanti mungkin kita akan kembali mengisahkan ini sebagai pengantar tidur atau cara mengikat ingatan pada masa depan.

Mungkin kita telah lupa bagaimana respon pertama saat mendengar wabah ini menjalar. Hingga bentang kehidupan berjalan dalam tempo yang tertatih-tatih hampir 100 hari berselang. Bersyukurlah sebab catatan kematian mulai lebih kurang dari orang-orang sembuh. Tak seperti lonjakan angka kehilangan jiwa di negeri-negeri lain.

Aku menulis ini sebagai pengantar. Tentang epidemi yang mengetengahkan satu demi satu nilai kearifan dan kemanusian yang masih begitu kuat. Orang-orang boleh saja ada yang lunglai dan kehilangan apapun di masa ini tetapi sebagian yang lain akan datang memelukmu sambil berbagi.

Pagebluk ini seolah cara lain mengerat sisi sosial dalam gerus akulturasi budaya yang menikam belikat dari rusuk kultural kita. Kecanggihan teknologi yang semula dituding merentang jarak malah hadir mempercepat kehidupan baru. Ruang virtual itulah antara lain yang dimaksud new normal, yang akan menggeser tradisi bila tak mampu berendengan. Lihatlah nanti.

#jagajarak, #dirumahAja, juga #workfromHome kumpulan tanda pagar yang familiar sebagaimana seruan #LawanCovid19. Yang membuat sebagian besar warga benar-benar bertahan di dalam rumah untuk menghindari kerumunan. Bahkan salat jamaah Jumat sampai salat Idul Fitri 1441 mesti dilakukan dari rumah. Liburan tak biasa ini pun akhirnya membuat anak-anak sekolah bosan karena makin rindu kelas mereka.

Masa seperti ini tak akan pernah berulang kecuali dalam lingkup yang jauh lebih berat, dan tak terduga misalnya situasi peperangan konvesional. Bukankah WW3 tengah mengemuka? Tapi sudahlah, itu hanya pengaruh gurauan fantasi saya semata. Mungkin terlalu membaca beragam teori akhir-akhir ini.

Aku menulis ini sebagai kolase yang akan dibaca sebagai surat dari masa lalu. Setiap hal yang terjadi di masa pandemi Covid-19 akan merupa artefak penting. Untuk itu kukuhlah karena patuh dan mendengar. Tetaplah peduli dan berbagi semaksimalnya. Sebab itu bakal meruap demi amaliah bagi yang lain. Catatan amal baik.

Taqabalallahu minna waminkum. Mohon maaf lahir batin.

Selasa, 3 Syawal 1441 H.

 

Ilustrasi : IslamPos

error: Content is protected !!