Surat Tugas Wartawan Doeloe

admin

Surat tugas yang dibatasi ruang bahkan kadang wilayah itu, selalu digunakan untuk mengeskplor wacana yang mengemuka. Militansi wartawan tempoe doeloe amat tinggi. Mungkin sebab id card jadulnya yang terbatas. Hingga dimanfaatkan untuk menunjukkan kelas dan derajat laporan yang harus makin asyik dibaca dan dianggap memiliki arti penting bagi pembaca…

Advertisements

PAGI ini saya berdiskusi dengan Bang Yosafat, wartawan senior Kupang yang juga menjadi komisioner KPU NTT. Ia mulai menjadi jurnalis tahun 1992, beberapa bulan sebelum gempa Flores yang meluluhlantakkan Ende dan Maumere. Sikka kala itu diterjang tsunami, ribuan orang Binongko, Bugis, dan Mandar ikut disapu gelombang dahsyat itu.

Sebagai wartawan pemula Yos dituntut untuk mampu menulis feature berkualitas tinggi untuk Kupang Pos, grup Kompas. Maklum ada grup media lain yang juga menurunkan laporan dari lokasi bencana saat itu, sebutlah Jawa Pos. Sharing kami dengan Jhon dari Bali, yang juga praktisi media, disela sarapan tentu mengenai konten atau laporan jurnalistik.

Apa yang berbeda dari zaman mesin ketik dahulu hingga era sisa mengetik di keyboard smartphone saat ini? Antara lain kegigihan calon wartawan atau jurnalis. Situasi memang bertolak belakang, hingga proses karya pun jelas akan memberi pengaruh tak sama.

Bila Yos harus menjangkau pedalaman Flores dengan sarana sangat minim awal tahun 1990-an. Untuk melaporkan liputan ke redakturnya Yos masih menggunakan sarana radio yang harus ditulis ulang penerimanya di kota. Saya yang sempat magang di Harian Pedoman Rakyat Makassar akhir 1990-an, kadang diberi tugas menunggui faksimili dari daerah saat sore untuk diketik ulang lalu diberikan ke redaktur. Itu hal membosankan awalnya, tapi saya sadari sebagai cara melatih anak muda yang berminat jadi wartawan.

Saya juga pernah magang di Ujung Pandang Ekspres, dan Parepos, sebelum bekerja di Radar Mandar (kini Radar Sulbar) tahun 2004. Proses belajar seperti ini seperti anak sekolah yang naik kelas di berbagai sekolah. Pemagangan di Parepos memang rangkaian dari visi besar Alwi Hamu, Big Bos Fajar tentang proyeksi Sulawesi Barat. Yang masih diperjuangkan saat itu.

Bila kini sebagian awak media langsung bekerja dengan id card eksklusif, tempo hari setiap wartawan magang hanya dibekali selembar Surat Tugas yang berlaku tiga bulan atau enam bulan. Di dompet surat tugas seperti itu pasti lecek atau lusuh, karena cukup tebal dibanding dengan lembaran uang yang juga minus.

Nasib surat tugas semacam ini bahkan dapat sekumal wartawan yang mengantonginya. Prototipe kuli tinta dekade amat berbeda dengan penampilan jurnalis masa kini yang lebih parlente.

Dahulu kadang kami selalu meliput dengan menumpang pete-pete dari satu titik ke titik liputan lainnya. Atau bahkan harus berboncengan motor pinjaman. Sebelum masa laptop atau telepon genggam yang kita harap sepintar pemiliknya, era mesin ketik atau bahkan notes memberi pengalaman motorik yang lebih baik. Daya ingat wartawan dulu dan kini dapat diuji dengan perangkat berbeda zaman itu.

Saya (masih) selalu menyarankan agar wartawan tetap mengantongi pulpen dan buku catatan, dua alat yang hampir dimuseumkan itu sesungguhnya dapat menjadi pengendali arus wawancara, dan alur pikir wartawan itu sendiri. Kini saya melihat amat langka reporter mengais gagasan narasumber sedalam mungkin dengan amunisi itu. Napoleon Bonaparte bahkan membuat metafora tentang ketakutannya pada pena wartawan dibanding sebatalion tentara.

Surat Tugas bagi reporter baru ibarat Surat Izin Mengemudi untuk menjelajahi semua lajur liputan. Selembar kertas itu yang bahkan belum diprin berwarna, kecuali kop suratnya, sungguh pas jalan yang memungkinkan kita berimprovisasi meski dibatasi kadaluarsa. Kita seolah-olah sudah merasa begitu berkepala besar, padahal baru saja diberi tanggung jawab mengenai karya.

Surat tugas yang dibatasi ruang bahkan kadang wilayah itu, selalu digunakan untuk mengeskplor wacana yang mengemuka. Militansi wartawan tempoe doeloe amat tinggi. Mungkin sebab id card jadulnya yang terbatas. Hingga dimanfaatkan untuk menunjukkan kelas dan derajat laporan yang harus makin asyik dibaca dan dianggap memiliki arti penting bagi pembaca.

Diskusi pagi, usai penutupan Rakornas SDM KPU se-Indonesia bersama mantan awak media dari pelosok daerah menyisakan simpulan bahwa dunia jurnalistik hari ini, mesti lebih bernas dalam konten. Sarana yang lebih baik dan mode pencarian informasi awal yang amat cepat seharusnya dimanfaatkan wartawan. Media pun sejatinya memberi makna newsroom yang bernuansa digital, mobile, dan sejuk tinimbang keangkeran para redaktur dahoeloe setiap jelang deadline.

Tentang surat tugas wartawan di jaman dahoeloe itu, saya tak lagi menemukannya dalam tumpukan arsip di rumah. Kecuali id card masa awal komputer yang mudah luntur bila dikerubungi gerimis sebentar saja. Bandingkanlah.

Masijid Agung Palembang, 6 Juli 2019

Next Post

Rindu di Bulan Juli

Oleh Adi Arwan Alimin Bukan hanya tentang JuniBulan menitis hujanTetapi JuliTelah menuang kisah Inilah riwayat rinduKetika pertemuan Memagut kataMenyilang di dadamu Pernahkah kau cemburuPada kisah memburuSaat kemarauMenjaring gelisahmu Di sini kau menorehLuka sebagai embunSeperti hujanDalam birama kata Mamuju, 20 Juli 2019 Sumber Foto :astronomi.org

Subscribe US Now