Jurnal Warga

Latest

Tea Walk di Perkebunan Gunung Mas

Advertisements

Oleh Adi Arwan Alimin

07.30 usai sarapan peserta langsung menuju bus yang disiapkan panitia. Moda beroda enam telah siap di areal parkir Hotel Seruni, Bogor. Meski matahari sudah melewati punggung pegunungan suhu tetap saja dingin.

Rombongan pun menyusuri jalan raya Cisarua, kesibukan pagi kawasan puncak telah terhampar di jalur yang selalu sibuk. Pagi ini jadwal rapim KPU se-Indonesia akan diisi “Outbond Refresh Recharge” di kawasan Perkebunan Nusantara VIII. Di sinilah teh Gunung Mas legendaris itu dipetik dan diolah.

Pemanasan peserta dimulai dengan senam atau olah tubuh dipimpin fasilitator. Dilanjutkan lomba yel-yel antar divisi. Rumput dan lapangan berundak menjadi arena bermain yang asyik. Di lapangan ini digelar pula pertandingan futsal.

Foto : A3

Kawasan agrowisata ini dirintis sejak sekitar dua dasawarsa lalu, spot Gunung Mas menjadi primadona di kawasan puncak. Letaknya yang strategis, berada di tengah-tengah pusat kawasan pariwisata, dan kelengkapan fasilitas yang disediakan pengelola juga menjadi daya tarik tambahan (bumn.go.id).

Tiada lagi truk yang lalu lalang mengangkut teh, atau bising pabrik, sejumlah gudang besar telah ditutup. Kang Jung yang memandu tim Tea Walk SDM Parmas, perusahaan negara tempatnya bekerja sejak 25 tahun lalu itu, mengatakan, hasil petik teh kini diolah di tempat lain.

Sepanjang rute tea walk yang memutari area perkebunan terhampar permadani pucuk teh menghijau. Ratusan pohon kayu manis juga tegak menaungi lajur-lajur teh seperti mengukir pinggul pegunungan.

Gunung Mas, satu dari beberapa lokasi agrowisata kebun teh di Jawa Barat milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII. Yang lainnya tersebar di Kab. Subang, Kab. Garut, dan Kab. Bandung. Masing-masing tentu saja memiliki ciri khas.

Foto A3

Kang Jung mengisahkan bagaimana perkebunan ini telah dibuka hampir seabad lalu, sekitar tahun 1910. Dirintis oleh pemerintah kolonial Belanda yang kala itu menjadikan teh sebagai komoditi ekspor. Namun cuaca yang tak lagi memberi suhu seperti puluhan tahun silam membuat 30-an hektar area ini ditanami alpukat.

PT Perkebunan Nusantara VIII punya tak kurang dari 41 perkebunan yang tersebar di berbagai kabupaten di Jawa Barat. 24 diantaranya adalah perkebunan teh. Sisanya perkebunan kina, kakao, karet, dan sawit. Berkat perkebunan tehnya, PTPN VIII mengklaim diri sebagai produsen teh terbesar di Indonesia: menghasilkan 45 persen produk teh nasional (indoplaces.com).

Foto : A3

Area perkebunan Gunung Mas dibuka maskapai Perancis dengan nama Gonoeng Mas Prancoise Nederlandise de Culture etde Commerce. Tahun 1912 berdiri perusahaan Jerman, NV Culture My Tjikopo Zuid. 1949 karena Jerman kalah dalam perang dunia II, perusahaan ini diminta oleh pemerintah Belanda dan dikelola pusat perkebunan negara yang dulu disebut dengan GLB.

Pada tahun 1954 berganti pengelola perusahaan Belanda, “NV Tedeman Van Kerchem (TVK) yang berkantor pusat di Bandung. Baru pada tahun 1958 diambil alih oleh Pemerintah Republik Indonesia yang kemudian dinasiolisasi ke dalam PPN Baru Kesatuan Jabar II (indeksberita.com).

Rute tea walk hari ini sepanjang hampir lima kilometer. Menapaki ruas jalan berbatu yang dibuat sejak zaman Belanda.

Tim tea walk penulis digawangi Ilham Saputra, komisioner KPU RI, yang tak pernah kehilangan canda dan semangat. Ruas jalan perkebunan ini jelas menjadi riuh. Yel-yel SDM Parmas memecah kesunyian pucuk-pucuk teh. Bayangkanlah anak-anak Pramuka yang sedang hiking, kira-kira demikian keseruannya. Divisi ini memang sangat kompak. Acara pagi ini memang untuk me-refresh dan me-recharge komisioner.

Kontur tanah perkebunan yang landai dan mendaki membuat nafas peserta naik turun. Untunglah udara pagi masih segar, dan gemercik aluran air dari kali berbatu besar seperti suplemen. Rongga dada serasa lapang.

Foto A3

Saya membayangkan lahan-lahan kosong dan tidak tergarap di Sulawesi Barat dapat pula dikemas seperti ini. Tapi itu memerlukan imajinasi bernama masa depan bagi pengambil kebijakan di daerah. Membangun daya tarik agrowisata bukanlah hal sulit. Visi kepariwisataanlah yang menentukan.

Sambil menekuri jalan berbatu di sini fragmen tentang hutan yang dikupasi menjadi lahan perkebunan seperti ini bagai drama dari masa silam. Tiada tuan-tuan Belanda yang berdiri di sana. Kecuali pemandangan sungguh menawan bagi siapapun yang bertandang.

Udara berkabut seperti kirai yang disingkap menyambut siapapun. Anda sepertinya perlu datang menikmati keramahan warganya sambil menuang teh dalam cangkir penuh kenangan. Di salah satu sudut area ini berdiri seundak besi berjejaring “gembok cinta”. Entah apa maknanya.

Tugu Selatan, 12 Februari 2020

Foto : Istimewa

Tea Walk di Perkebunan Gunung Mas

The Latest

To Top
error: Content is protected !!