Tentang Hikayat Rempah

Home » Tentang Hikayat Rempah
Tentang Hikayat Rempah
Advertisements

Oleh: Adi Arwan Alimin

Dapur. Sebuah kata yang nyaris semua orang memilikinya. Entah dari sebuah istana yang paling megah hingga kamar kos paling sederhana, selalu memiliki ruang mini itu. Dari sanalah semua harapan setiap pagi dirancang apakah mesti disertai sarapan berlauk pauk seisi meja, atau sebungkus rebus mi seduh.

Dapur itu mewakili personifikasi tentang sejumlah bahan baku memasak, lebih kerennya sebut saja rempah-rempah. Ini kemudian tidak menjadi sesederhana yang kita bayangkan bila menengok mengapa Nusantara yang membentang luas ini pernah dijajah berbagai bangsa. Ingatan paling mudah itu, yakni VOC, sebuah kamar dagang mandiri yang didirikan di Belanda dengan otoritas berkuasa penuh, dan bersenjata.

Rempah dapur itu dapat disebut sebagai sebuah revolusi yang telah mengubah cara pandang manusia pada dunia lain, pada negeri-negeri terjauh di balik benua. Pengembaraan mencari bahan makanan penting itu lalu menjadi bentuk monopoli dagang yang berujung kolonisasi. Negeri-negeri yang dahulu akur di antara perairan barat dan timur Nusantara kemudian berubah sebagai lanskap yang sangat berbeda. Orang-orang asing yang barbar itu datang dan menyeret urusan dapur itu ke berbagai medan tempur. Ketentraman yang buyar dalam pecah belah.

Sejak jalur sutra ditinggalkan, Nusantara pernah menjadi kunci pertemuan dagang dari semenanjung Mediterania, Teluk Persia, Samudera Hindia, dan tentu saja Laut China Selatan itu. Pelabuhan-pelabuhan milik Sriwijaya, Sunda, Pasai, Majapahit, Malaka hingga Makassar lalu berubah sebagai perlombaan reputasi orang Eropa. Kutipan ini dapat dilihat Kronik Peralihan Nusantara yang ditulis Bayu Widiyatmoko (2014).
*
Ahad pagi, saya berbincang cukup lama dengan penjual nasi pecel di tepi Jalan Soedirman. Apalagi bila bukan mengenai bahan baku sambal kacang yang menjadi kekuatan rasa nasi pecel sampai gado-gado. Rupanya lelaki asal Jawa Timur ini cukup lama melakukan perbandingan rasa kuliner. Intinya tetap pada rahasia rempah-rempah, seperti halnya Coto Makassar atau Sop Saudara. Nama warung boleh sejenis, tapi sentuhan tanganlah yang membuatnya berbeda begitu sampai di lidah.

Kami membanding soal cita rasa ini setelah masing-masing pernah “meriset” rasa sedap secara terpisah. Ini mungkin bukan obrolan penting bagi orang lain, tapi menyimak pengalaman pemilik warung yang berani mengusung kekhasan bumbu bagian dari ketangguhan perantauan yang panjang. Menjajakan makanan di tepi jalan raya itu memiliki tantangan tersendiri apalagi di tengah kota yang jumlah warungnya terus menawarkan beragam menu.

Menurutnya, menjual kuliner yang diolah dari beragaman bahan makanan itu kerap diikuti cara melestarikan bumbu dapur secara rahasia. Terlebih makanan juga mencitrakan asal usul. Sebutlah nasi pecel Jatim dan Jateng itu pasti berbeda. Nasi pecelnya memang khas, berbeda dengan pecel Mbak Gusni yang biasa penulis nikmati di tengah pasar Wonomulyo, atau ulek sambal Mamak Maryam depan pasar di sana.

Rempah memang bukan hal biasa. Tak hanya mampu menggerakkan selera orang per orang. Tapi juga sanggup mendongkrak nilai per kapita. Bila dahulu kita mengenal istilah abad rempah, sebutan untuk periode penelusuran kepulauan Nusantara guna mencari rempah-rempah. Meskipun lada atau cabai kabarnya bukanlah tanaman endemik nusantara, tapi berasal dari India, dan benua Amerika.

Bangsa ini telah melewati masa rempah-rempah yang melimpah. Peta Hindia Timur milik Petrus Placius yang dilukis oleh Richard Beckit untuk buku Discours of Voyages into ye Easte & West Indies (1598) dijadikan sebagai panduan bagi orang Belanda dan orang Eropa untuk menelusuri jejak kepulauan rempah-rempah (kompas.com).

Kolonisasi sebab rempah-rempah mungkin tak akan terulang, dunia telah berubah amat cepat sejak informasi dan teknologi kian maju. Kolong bumi ini kini sedang disesaki serbuan lain, berupa remah-remah aplikasi yang dapat merempahi masalah sosial bila tak dapat dioptimasi. Saatnya terus meramu lezatnya nilai-nilai sosial, keseteraan, dan terus mengepulkan kearifan lokal berdalil budi. Itulah rempah-rempah yang dapat menguatkan sendi bangsa ini.

RumahMenulis, 10 Januari 2020

*Catatan ini terbit di Harian Sulbar Ekspres edisi Senin, 11 Januari 2020

error: Content is protected !!