Jurnal Warga

Sumber : Kompas.com
Catatan

Tetap Kuatkan Imunitas

Advertisements

Oleh : Adi Arwan Alimin

Kira-kira saat ini kita sedang berada di fase apa? Setelah pandemi corona meningkat ke level bencana nasional.

Mungkin sebagian diantara kita mulai menyadari bahwa masa ketakutan, masa belajar, atau masa tumbuh pada segala kecemasan telah berangsur memengaruhi psikologi setiap orang-orang.

Bila masih banyak yang dianggap bandel karena gemar berkerumun di tempat umum, mereka mungkin tak menyadari bahwa sejak sebulan terakhir warga negara Indonesia melewati tiga fase penting di atas.

Tapi sekali lagi bagi orang-orang semacam itu mungkin memandang ini hanyalah tahapan biasa-biasa, dan akan berakhir sendiri. Akan indah pada waktunya, begitu kira-kira.

Secara psikis setiap orang akan mengalami tiga tahap tadi. Pertama, masa ketakutan. Sehingga tak heran bila masker, handsanitizer misalnya habis diborong di toko-toko. Rabu siang saya bertanya pada penjaga toko tentang stok cuci tangan kering ini, jawaban jelas habis.

Padahal di ruang-ruang komunitas seperti WA atau Facebook kerap muncul penjual dadakan. Pertanyaannya, dari gudang mana mereka mendapat stok bertimbun itu.

Saya pernah tertarik membeli cuci tangan kering itu, rupanya pedagangnya tak peduli pada pembeli sebotolan. Dia bilang, ” terlanjur diborong apotek.” Alhamdulillah seorang apoteker memberi tips amat praktis.

Berita hoaks ikut memicu tingkat kecemasan, dan menyebabkan kepanikan bagi orang lain yang suka menelan informasi tanpa mengunyah. Di media sosial kita sama membaca, tapi rupanya alergi informasi pun telah ada. Seperti kurap makin gatal kian asyik digaruk.

Pandemi ini telah melahirkan sikap yang berbeda-beda. Ancaman penularan virus dengan angka-angka yang terus disuguhkan ke kita dapat mengubah respons psikologis. Imun dapat lunglai lho.

Kini #jagajarak misalnya membuat kita seolah berperilaku tak biasa, padahal selama ini interaksi kita dengan orang secara sosial cukup terjaga. Sebabnya sejauh ini kita tumbuh dalam kultur komunal walau seurban apapun gayanya.

Itulah, seperti yang saya katakan sebelumnya, biarlah otoritas berwenang yang berdiri tegap dalam menyampaikan informasi mengenai progres Covid-19 ini. Tapi respons psikologis setiap orang berbeda, hingga fase ketakutan masih saja menonjol.

Secara berkala pada setiap petang kita seperti membiarkan diri menunggu secara sadar piramida kecemasan pada corona memuncak.

Begitu konferensi pers gugus tugas usai melansir data terkini Covid-19, derum kecepatan gas langsung digeber paling cepat. Itu seolah pacuan di pertigaan lampu merah. Lalu bumbu komentar sendiri.

Ibarat pemandangan, tentang sekumpulan orang yang menonton film secara bersama, begitu layar ditutup, seseorang lalu bercerita dari banyak angle padahal lawan bicaranya duduk bersamanya di dalam bioskop. Anehnya kita sering membiarkan ditumpahi sambil mengangguk pada perilaku itu.

Sadar atau tidak ini dapat menyebabkan masalah kesehatan yang lain, yakni meningkatnya level kecemasan yang akan berefek pada suasana mental kita.

Saya belum membaca laporan lengkap yang menyebutkan dampak pandemi ini telah memicu persoalan tambahan, sehingga masalah Covid-19 meraut soal gangguan kejiwaan.

Yang menarik dari RSJ Daerah Dr. Amino Gondohutomo, Jawa Tengah para pasien rehabilitasi psikososial justeru sedang membantu menyediakan APD. Mereka ikut berperang melawan corona.

Jadi tetaplah kuatkan imun. #jagajarak, mendengar dan patuh.

Kamis, 16 April 2020

Ilustrasi : kompas.com

Tetap Kuatkan Imunitas

The Latest

To Top
error: Content is protected !!