Jurnal Warga

Catatan

Tokape, Jejak Perlawanan Hegemoni Belanda di Balanipa

Advertisements

TOKAPE. Kesatria ini lahir di Lekopaqdis, Balanipa pada akhir tahun 1830. Tiga dekade kemudian atau 1862 ia diangkat sebagai Maraqdia Matoa Balanipa menggantikan kakaknya I Baso Tokeppa.

Karir anak Ammana Iyangge dan Tobalu Malolo ini mencapai puncaknya pada  tahun 1872 ketika memangku sebagai Arajang Balanipa, jabatan yang terbilang berat di Mandar pada masa itu, selain karena konflik internal juga ambisi pemerintah kolonial Belanda yang hendak mengusai Mandar (Muhammad Amir, 2014)

Tokape memiliki nama asli I Boroa Tokape. Berada dalam garis bangsawan ‘Ana Pattola Payung’ atau para calon pengganti Maraqdia. Dengan posisi semacam itu Tokape sejak dini menerima pendidikan berupa keterampilan dan kecakapan khusus dibanding anak muda lainnya. Salah satu hal yang mesti dimiliki tentu saja sikap terpuji; dalam gau, kedzo anna pau.

Bina mentalnya telah ditanamkan dari lingkungan keluarga kerajaan Balanipa termasuk para pemangku adat. ‘Andonggurunna anaq’ maraqdia semacam pusat pendidikan dan latihan telah ada di lingkungan Kerajaan Balanipa. Di candradimuka inilah Tokape menerima pematangan diri berupa ada istiadat, budi pekerti dan adaq mapparetta sebagai calon pemimpin di kemudian hari.

Mengapa Tokape Melawan Belanda?

7 Oktober 1816, sebuah upacara serah terima kekuasaan dari Inggris ke Belanda digelar. Namun kedatangan Komisaris Belanda, P. Th. Chasse bersama Letkol Bischeff dan Kapten Laut Dieta tidak sesuai harapan mereka. Dalam catatan sejarah, Indonesia pernah dijajah Inggris secara resmi melalui Perjanjian Tuntang, isinya antara lain tentang kekuasaan Belanda atas nusantara harus diserahkan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Janssens kepada Inggris.

Tetapi sejumlah kerajaan menunjukkan penolakan untuk menghadiri penyerahan kekuasaan atas wilayah Makassar dan sejumlah daerah bawahan dari Inggris. Yang datang hanya Kerajaan Gowa, Sidenreng, dan Soppeng. Sementara Kerajaan Bone, Suppa, Tanete dan kerajaan-kerajaan di Mandar menolak  undangan itu. Ini menjadi bagian tak terpisahkan dari persoalan hegemoni dan supermasi antarkerajaan di daratan Sulawesi.

Perlawanan Maraqdia Tokape melawan Belanda diawali pengangkatan Maraqdia Mannawari sebagai Maraqdia Balanipa. Tokape menganggap tidak seharusnya urusan internal di Balanipa dicampuri pihak luar. Pengangkatan Mannwari sebagai maraqdia tahun 1870 yang diharapkan dapat menyelesaikan konflik internal kerajaan, namun hal itu justru memicu alasan Tokape untuk melawan.

Dewan Hadat, para bangsawan tinggi Balanipa dan sebagian besar rakyat disebutkan menolak Mannawari. Appeq Banua Kaiyyang: Napo; Samasundu; Mosso dan Todang-Todang kemudian mengukuhkan Tokape sebagai Arajang Balanipa (Marsupian, 2017). Situasi politik di Balanipa kemudian berubah drastis. Ditambah Tokape juga menolak kerja sama dengan Belanda.

Tokape tidak bersedia menandatangani kontrak baru dengan Belanda. Poin kerja sama ini menjadi salah satu pertimbangan mengapa Mannawari digantikan Tokape. Di Celebes masa itu, Belanda memainkan peran ganda, mengajak persahabatan yang disebut kontrak untuk kepentingan monopoli dengan kerajaan-kerajaan lokal. Bila mereka menolak Belanda akan memanfaatkan pihak lain untuk melawan kerajaan yang tak dapat diajak bersekutu.

Konflik pemerintah kolonial Belanda dengan kerajaan Balanipa bukanlah hal baru. Jauh sebelum Belanda mengambil alih kekuasaan Inggris pada awal abad 19, kehadiran Verenigde Oost Indche Compagnie atau VOC di kawasan timur Nusantara pada abad 17 telah mengobarkan perlawanan. Simaklah bagaimana Orang-Orang Mandar senantiasa membantu Kerajaan Gowa hingga Perang Makassar melahirkan Perjanjian Bungaya. Tak heran bila Tokape tetap mewarisi sikap heroik dan tak mau tunduk.

Kontak fisik berupa perlawanan bersenjata antara Tokape dan Belanda pun tak lagi dapat dihindarkan. Ketidakpatuhan Kerajaan Balanipa atas sejumlah ketentuan dalam kontrak politik menyebabkan Belanda melakukan ekspedisi militer atau penyerangan terhadap Balanipa.

Sementara bagi Balanipa kontrak tersebut dianggap merugikan akses perdagangan mereka. Hingga Tokape pernah menghadang pasukan Belanda yang mendarat di Majene. Epik itu dapat dilihat dalam diorama 15 di Museum Mandala, saat Tokape menghadapi ekspedisi Belanda (academia.edu).

Sebuah surat ke Batavia melalui mailraport bertanggal 24 Juni 1871 melaporkan bahwa Maraqdia Balanipa Mannawari telah diturunkan, dan Dewan Hadat Balanipa mendukung Tokape (2014). Tahun 1872 Belanda mengirimkan pasukan ke Balanipa. Sepanjang perlawanan Tokape Belanda terus mengumpulkan informasi tentang Tokape dan para pengikutnya.

Tokape antara lain memilih perlawanan gerilya dengan mengungsi ke pedalaman Allu dan Taramanu. Jalur purba hingga ke Banggae dan wilayah Pamboang menyisakan jejak amat dramatik hingga kini. Kurangnya persenjataan membuat Tokape mengambil keputusan tersebut. Pengejaran pada Tokape yang dipimpin Letnan Van der Voorda mengakibatkan semua kampung yang dilewati Belanda dihancurkan.

Setelah semua cara dilakukan termasuk mengangkat kembali Mannawari sebagai Maraqdia Balanipa di Makassar, kolonial Belanda kemudian berhasil menangkap dan menawan Tokape tahun 1873.

Tokape terkepung setelah mempertahankan istananya amat sengit di Lekopa’dis (Tinambung), ia kemudian ditangkap Belanda. Versi lain mengatakan ia menyerahkan diri untuk melindungi pasukan dan sekutunya.

Ia dilayarkan ke Makassar pada 4 November. Hampir dua bulan ditahan di Makassar selanjutnya dibawa ke Batavia untuk diadili (Muhammad Ridwan, 2011).

Sosok tangguh ini diasingkan ke Pacitan, Jawa Timur. Namun permusuhan generasi setelahnya terhadap pemerintah Belanda seperti bara.

Konflik yang terjadi di masa I Boroa Tokape tidak hanya menggambarkan betapa posisi Balanipa bagi pemerintah kolonial sangat penting. Pengiriman pasukan militer, atau pengejaran Tokape untuk mendukung Mannawari selama sekian tahun tentu memerlukan dana besar. Semua ini bagi Belanda pasti bukan hal yang gratis. Kerumitan itu ditambah seteru sesama bangsawan tinggi di sekitar kekuasaan Balanipa yang berkepanjangan.

Tokape menunjukkan ibrah kepada kita, sejak ia memangku sebagai Maraqdia Matoa hingga sebagai Arajang Balanipa. Ia merupakan salah satu diantara wira utama dari Balanipa yang merepotkan pemerintah kolonial Belanda di jazirah Mandar.

Mamuju, 3 Februari 2020

Adi Arwan Alimin

*Diolah dari berbagai sumber

The Latest

To Top
error: Content is protected !!