TPS Aman dan Sehat, Datanglah…

TPS Aman dan Sehat, Datanglah…

Advertisements

Catatan: ADI ARWAN ALIMIN

Sejumlah Negara di dunia tetap maju menggelar pemilihan umum. Walau pandemik Covid-19 sedang menyerbu, Korea Selatan misalnya, atau 54 negara dan terori lainnya tetap melaksanakan pemilihan nasionalnya. Walaupun mengalami problem dengan masalah partisipasi sejumlah Negara seperti Singapura, Polandia dan Korea Selatan tetap sukses menggelar pemilihannya.

Bagaimana dengan Indonesia? Untuk menyikapi pandemic Covid-19, KPU RI sebelumnya telah menunda Pemilihan Serentak 2020, semula 23 September kemudian digeser ke 9 Desember 2020. Kini dengan sejumlah syarat yang sangat ketat, kita sedang menuju bilik suara di Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Baik penyelenggara maupun pemilih akan menggunakan tata cara atau setidaknya terdapat 12 Hal baru di TPS. Diantaranya, jumlah pemilih yang makismal 500 orang, yang kedatangannya akan diatur dalam form C Pemberitahuan (sebelumnya dikenal sebagai C6), pemilih wajib memakai masker, pemilih pun akan dibekali sarung tangan sekali pakai. Bila dahulu usai mencoblos pemilih akan mencelup tangan ke tinta, nanti petugas KPPS akan meneteskannya.

Pemilihan 2020 memang sangat berbeda dengan pemilihan yang lalu. Di dunia pun tak ada Negara yang memiliki pengalaman menghadapi tahapan pemilu dalam tantangan wabah yang sangat berbahaya. Namun ada harapan atau contoh pada tahapan Coklit yang melibatkan ratusan ribu Petugas Pemutakhiran Data Pemilih (PPDP) saat kegiatan yang berlangsung mulai dari 15 Juli 2020 sampai dengan 13 Agustus 2020. Tidak ada laporan mengenai kluster Coklit.

Tahapan Pemilihan Serentak 2020 memang sesuatu yang luar biasa. Kita juga mungkin tak dapat begitu saja menyerap contoh yang telah dilakukan di beberapa Negara, sebab sistem pemilihan, geografi, dan sikap pemilih dalam memandang setiap pesta demokrasi yang juga berbeda.

Upaya yang kini dilakukan KPU RI bersama jajarannya hingga ke KPPS adalah terus mendorong kesadaran memilih, dan meningkatkan level sosialisasi cegah covid ke tingkat lebih masif. Sejumlah kementerian pun ikut membuat metode sosialisasi agar warga pemilih tak perlu takut ke TPS. Semua upaya ini diharapkan mampu mencapai target partisipasi 77,5 persen. Target ini sama pada Pemilu 2019.

***

Semalam dalam diskusi Pendidikan Pemilih bertajuk Demokrasi Sehat untuk Memilih Pemimpin Berintegritas yang digelar Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Barat, mengemuka beberapa hal urgen. Acara ini dihadiri Cak Nanto, Hamdan Dangkang KPU Mamuju, dan jajaran Pemuda Muhammadiyah Sulbar dan sejumlah pegiat sosial.
Antara lain, demokrasi yang sehat secara teknis, bila seluruh proses tahapan dan pelaksanaan di TPS telah dilakukan penyelenggara secara optimal. Juga mengenai kesadaran pemilih yang memilih dengan sehat secara psikologis. Bahwa mereka akan memilih karena kesadarannya bukan karena intervensi apalagi iming-iming.

Sebagian pemilih tentu saja telah memiliki pengalaman dalam urusan memilih pasangan calon. Integritas pemilihlah yang akan sangat menentukan siapapun yang bakal menjadi pemimpin di masa depan, kita berharap tidak hanya penyelenggara yang senantiasa dituntut menjaga integritas namun semua pihak pun, termasuk pasangan calon berikut timnya, juga para pemilih. Pemimpin yang berintegritas hanya akan lahir dari proses, dan tahapan pemilihan yang berintegritas pula.

Bila dapat diibaratkan, antara penyelenggara; pemilih dan pasangan calon sesungguhnya berada pada alur yang sama. Hasil akhir pemilihan yang akan menghasilkan pemimpin terpilih berada di muara, di hulu terdapat penyelenggara yang melaksanakan segala tahapan secara taat dan tertib regulasi, sementara pemilih adalah bantaran yang menentukan alur ini akan penuh kelok atau tetap sanggup menjaga luapan dari arus deras pemilihan, politik uang atau hoaks misalnya. Tantangan dan kualitas pemilihan berada di antara kandidat, penyelenggara dan pemilih.

Kini kita sedang berada dalam kurun Pandemi Covid-19. Tantangan pemilihan yang merupakan pertemuan paling besar yang digelar setiap daerah atau negara. Di dunia ini tidak ada peristiwa sosial yang melibatkan jumlah peserta sebanyak orang-orang yang mendatangi hari H Pemilu atau Pemilihan. Ketidakpastian kapan Covid ini berakhir membuat kita semua mesti menghadapinya bersama-sama.

KPU membuat belasan kebijakan baru saat pemilih akan datang atau berada di TPS. Sanitasi yang diperlukan untuk mitigasi Hari H Pemilihan Serentak 2020 telah diupayakan. Standar protokolnya akan dilaksanakan ketat, ditambah pengawasan dari publik.

Memilih pemimpin memang bukan urusan gampang. Selain diperlukan kesiapan mental dan psikologis yang kuat karena kita sedang berkutat di tengah pandemic, juga mengenai kematangan pemilih. Tapi penulis percaya, pengalaman berungkali di bilik suara telah mengayakan para pemilih. Dalam kesadaran mendasar setiap pemilih sesungguhnya memiliki itu. Untuk dapat menentukan pilihannya walau harus datang ke TPS pada situasi tidak senormal pemilihan sebelumnya.

Pemilihan kali ini berbeda, dan penuh syarat pencegahan Covid di TPS. Itu semua dilakukan untuk menjamin kesehatan dan rasa aman. Rata-rata pemilih akan berada di TPS selama lima menit, tempo yang tidak begitu lama dibanding duduk di warung atau restoran sambil menanti menu disajikan. Atau antre di fasilitas umum lainnya. Lima menit di bilik suara sepantaran lima tahun kuasa pemimpin terpilih. Alasan ini amat kuat pada benak pemilih.

(Catatan ini terbit di Harian Suleks edisi 30 November 2020)

error: Content is protected !!