Tugu Agraris Kampung Jawa

Tugu Agraris Kampung Jawa
Advertisements

Oleh: Adi Arwan Alimin

Sejak kemarin saya diberitahu, tugu pak tani di alun-alun Wonomulyo dirubuhkan seorang warga. Pada awalnya orang-orang yang melihat tidak menduga bahwa aksi solo itu ternyata bukan perintah siapa-siapa. Apalagi disuruh Camat Wonomulyo.

Peristiwa yang tidak biasa itu melahirkan beragam tafsir netizen, khususnya warga kota kecil ini. Kita bisa melihatnya di linimasa sejumlah akun media sosial atau pengantar pesan komunitas. Misalnya, grup WA Warga Wonomulyo.

Tak mungkin pula memberi sanksi kepada seorang warga yang diduga (maaf) kurang waras, sebab ini memerlukan kesimpulan ahli bahwa benar yang merubuhkan patung tani itu tidak sehat.

Penulis pun awalnya tertawa, kok bisa-bisanya patung itu menjadi sasaran, lagi pula saat warga bertanya, jawabnya singkat saja. “Disuruh pak camat!” Lalu pak Asrul Ambas yang kini Camat Wonomulyo datang menegur. Si warga itu pun berhenti.

Bagi yang waras, perusakan itu mesti dimaknai positif. Mungkin saatnya membangun landmark atau penanda yang lebih estetis di alun-alun. Saat tugu perahu dibangun di sana, penulis termasuk yang meminta agar dibuat ciri agraris sebagai tengara kota. Bukan simbol maritim.

Sebagai penulis buku “Kampung Jawa di Tanah Mandar”, penulis ingin mengusulkan sekali lagi mengenai landmark Wonomulyo yang di masa Hindia Belanda dikenal Kolonis Mapilli. Area yang membentang luas ini dahulu memang kawasan amaraqdiang Mapilli.

Penulis yakin, warga Kampung Jawa akan secepat kilat membantu bila ada gagasan untuk membangun landmark yang kelak dapat menjadi penanda sejarah daerah ini. Peristiwa kemarin mesti pula dimaknai sebagai cara menengok masa silam Kampung Jawa yang hampir seabad. Usianya memang sudah uzur.

Penulis sering bertemu beberapa warga senior Kampung Jawa, yang memiliki kenangan masih amat lekat pada kota kecil yang super sibuk ini. Pekan lalu, saat penulis melintasi area pasar subuh pada jam 02.00 dini hari, kesibukan bahkan telah memacetkan jalanan pada jam-jam itu.

Maknanya saat warga lainnya masih lelap, transaksi di depan alun-alun telah ripuh pakai banget. Ada kehidupan yang nyaris tak mengenal rehat di sana, padahal bekas Pasar Nganjuk ini dahulu merupakan rawa-rawa yang banyak memendam buaya, atau semula hutan belukar.

Pada catatan ini, penulis ingin menyampaikan sebaiknya dibangun landmark agraris baru. Yang dapat berupa tugu, atau semacam diorama yang berkisah kedatangan awal Kolonis Mapilli hingga era digital ini. Agar warganya memiliki penanda estetis yang kekinian, bukan karya seni yang diduga merupa berhala.

Mamuju, 24 Juni 2021

error: Content is protected !!