Jurnal Warga

Humaniora

Upacara Segelas Susu, dan Warung Pisang Ijo

Advertisements

Oleh Adi Arwan Alimin

Pagi itu saya melajukan motor dari Jalan Brawijaya, Wonomulyo. Sebenarnya tidak sangat kencang, tapi jalan yang lengang membuat rute ke Polewali pas untuk mengencangkan gas.

Saya naik motor WIN milik redaksi Suara Radio Sawerigading. Newsroom media lokal ini pasca reformasi berjaringan Unesco dan KBR 68H Jakarta.

Biasanya kendara ini disetir bung Rusman “Tony” Syafri, tapi hari itu sayalah yang membawanya. Tak dapat dihitung pula berapa kali saya dengan Tony berboncengan untuk program liputan di area Polewali.

Saat melintasi jembatan Labasang sebuah mobil Kijang berwarna hijau lumut terparkir di sisi jalan. Di atapnya yang khas terpasang semacam rak roof dari besi.

Sekian menit intuisi saya seolah mengentalkan ingatan pada pemilik mobil: Puang Manyang atau Andi Manyambungi. Penasaran, motor segera memutar. Awalnya tak menemukan pengemudinya.

Tak jauh dari mobil itu terdapat warung sederhana, di sisi kiri sebelum jembatan Labasang, Tumpiling. Di samping kedai “darurat” itu sebuah barung-barung teronggok. Di sanalah pemilik mobil kijang yang terparkir di tepi sawah itu duduk bersila, sambil menggantungkan handuk putih di lehernya.

Saya segera menemui beliau. Tawanya yang khas segera menyembur, Puang Manyang sepertinya melihat saya sejak tadi saat celingak-celinguk di samping mobilnya. Saya segera mendekat dan duduk di sampingnya.

Kesibukan di warung itu juga berlangsung melayani orang-orang yang mampir. Puang Manyang meraih termosnya yang kira-kira cukup untuk dua-tiga gelas.

Ketika beliau menuang susu Dancow ke tutup termos dan mengapungkan ke saya, itu seolah jamuan Sado atau Nodate, layaknya upacara minum teh di film-film China seperti “Three Kingdom”. Bagi saya itu tetap saja kehormatan walau itu berlangsung di pinggir jalan. Ritual jamuan dua orang yang tak dikenali pemilik warung.

Kami akhirnya berbincang cukup lama khususnya beberapa hal mengenai sosial budaya. Tahulah saya bahwa sejak semalam beliau menyetir dari Makassar, dan di perjalanan itu ia membawa cukup banyak penumpang. Sampai di Polewali pun semua tumpangannya itu diantar satu-satu ke rumahnya.

Apakah beliau menyebut dirinya sebagai Puang Manyang, rupanya tidak sama sekali.

*

Di kesempatan lain saya kembali singgah di warung pinggir jembatan itu. Menikmati pisang ijo. Kedai ini menjual cendol, atau juga menu lainnya.

“Manami temanmu itu Nak? Andammi dzua leppang (dia tidak pernah lagi mampir).”

Saya memandang sang penjual. Ingatan saya menyembulkan kembali nama Puang Manyang. Karena saya tak pernah mampir di warungnya dengan orang lain selama ini.

“O… Puang Manyang?” Jawab saya.

Raut wajah orang tua ini tiba-tiba berubah. Air mukanya menganvaskan keterkejutan. Tubuhnya seperti langsung bergetar.

“Mendolomi lao Puang (beliau sudah meninggal dunia). Diaya di Makkah…”

Pemilik warung ini langsung tersungkur dan menangis. Ia bersimpuh di tanah. Perempuan uzur itu sebenarnya datang dari wilayah Balanipa, dan hanya mengenal amat baik nama Puang Manyang tapi tak pernah bertemu.

“Aqdapanganna todzi (ampunkan saya) Puang… andani tau uissang,” sebutnya berurai air mata. Rupanya pemilik warung ini tak pernah tahu sosok yang sering mampir di warungnya.

Puang Manyang memang tak pernah mengenalkan dirinya. Seolah-olah ia seorang pengembara asing yang tak ingin dikenali banyak orang.

Warung itu tak lagi berdiri di sana. Setiap kali saya melintas fragmen seorang manusia yang gemar duduk di barung-barung kedai itu terbersit. Saya terkenang tutup termosnya yang menunjukkan sahaja tata krama.

Segelas susunya seperti selalu segar. Ini sesungguhnya tentang nilai harmoni, rasa hormat, ketenangan dan cara belajar mengenai kebersamaan sepanjang umur.

Borobudur, 2 Maret 2020

Upacara Segelas Susu, dan Warung Pisang Ijo

The Latest

To Top
error: Content is protected !!