Usai Delay Delapan Bulan

Home » Usai Delay Delapan Bulan
Usai Delay Delapan Bulan
Advertisements

Oleh: Adi Arwan Alimin

Akhirnya pagi ini menjejak bandara Tampa Padang, Mamuju. Terakhir menapaki terminal udara ini medio Maret lalu, saat pagebluk Corona telah beberapa pekan menyembul dalam silang pendapat banyak kalangan. Saya membuat catatan ini untuk menuang kausalitas sebab Maret lalu pun menulis awal Covid-19 masa di mana sebagian orang 50:50. Percaya atau tidak.

Sungguh berhimpun puluhan agenda yang berskala nasional tak dapat didatangi atau dihadiri dalam delapan bulan terakhir. Untuk menghitung rapat koordinasi senusantara jumlahnya amat banyak, dalam kondisi normal mungkin itu akan dikemas setidaknya empat-kali dalam sebulan. Namun Covid-19 telah mengubah segalanya dari tatap muka ke layar muka.

Sesungguhnya di masa sebelum pandemi telah banyak orang atau penumpang pesawat yang memakai masker. Menghirup udara berjam-jam dalam lounge atau kabin kedap tentu akan menyesakkan bagi setengah yang lain bila mereka tergolong kaum protektif dan mengindahkan kesehatan pernapasan. Sejak lama saya kerap bersisian dengan pengguna masker dalam deret antrean.

Ini sepertinya akan menjadi lazim, betapa memakai masker itu kini sesuatu yang biasa. Kenormalan baru seperti ini seolah akan menjadi tradisi kemoderenan. Hal lain pandangan mata pun relatif akan berkurang pada godaan pemandangan yang juga tak kalah bikin sesak. Tatapan mata akhirnya terjaga walau lensa mata masih sering mengarungkan arti bersitatap.

Delay delapan bulan itu hari ini dimulai terbang tunda hampir sejam karena alasan operasional. Entah mengapa puluhan penumpang dari Tampa Padang menuju Makassar minim gerutu. Mungkin orang-orang telah cukup bersyukur karena dapat lagi terbang entah ke tujuan mana.

Bagaimana dengan protokol Covid-19 di Tampa Padang? Menurut saya itu cukup memadai. Dengan bekal hasil rapid test petugas akan memindai atau memalidasinya sambil mencatat tujuan kepergian dan kapan akan kembali. Orang-orang yang lalu lalang pun memakai masker. Bandara tentu menjadi pintu paling ketat dibanding pos perjalanan lainnya.

Saat menghimpun teks ini di kedai Roti’O (saya sering bercanda roti ini milik Orang Mandar hehe), suara speaker dari Gate 4 itu menyebut takeoff yang sedianya jam 15.00 digeser ke pukul 17.50 Wita. Ini artinya delay selanjutnya. Itu sama dengan menguji kekentalan kesabaran, dan emosi. Saya menyalurkannya sambil menulia sejak siang. Setidaknya sudah ada tiga ide yang dituang.

Saya diberitahu delay selama itu sebab sejak pagi puluhan pesawat mengalami keterlambatan. Di Jakarta ada keramaian besar menjemput kedatangan sang Imam yang kembali ke Tanah Air.

Barusan karyawan kedai ini menera Journey Roti’O yang dari tahap The Dough; The Piping hingga Enjoy It. Atau dari transfer prozen; baking trey; dan standing prooper.

IW1303-ID6265
Mamuju-Mandai

error: Content is protected !!