Warung Kartini, Ikon Nasi Berenang Wonomulyo

admin
Advertisements

Warung apa yang paling melegenda di Kappung Jawa? Salah satunya pasti “Kartini”, sebuah lapak kuliner khas yang berdiri tahun 1980. Mbah Waginten, dan putrinya Muntiani mungkin tak pernah menduga bila keputusan mereka membuka warung akan bertahan hampir setengah abad.

Resep soto ayam atau Sota, sebutan pada awalnya yang kemudian mengalami metamorfosis di lidah orang Mandar, jadilah nasi berenang. Adi Erlangga, putra Muntiani mengatakan, sajian makanan itu sebelumnya dikenal sebagai soto ayam. “Orang Mandar yang menyebutnya sebagai nasi berenang,” tutur Adi dalam percakapan via Facebook. Saat penulis berkunjung ke warungnya, ia sedang di tempat lain.

Kini istilah nasi berenang atau nasber sangat populer, tidak hanya bagi orang di Wonomulyo, Polewali Mandar tetapi juga sampai kabupaten tetangga. Rasanya tak lengkap bila melewati Kampung Jawa tanpa mampir menikmati nasber. Menunya tidak begitu ruwet, hanya merupakan olahan soto ayam yang diceburin ke mangkuk nasi, dengan tempe goreng sebagai pelengkap. Lalu mulailah srup, sruup, sruuupp… Amat bersahaja kan?

Muntiani pendiri Warung Kartini
Muntiani pendiri Warung Kartini

Tapi bagi Ayu Syifa, penikmat kuliner dari Majene, menu ini disebut sebagai salah satu andalan. “Andalanku ini saya kak…” sebutnya menanggapi postingan picture nasber di akun Fb penulis.

Akun Fb lainnya, Eleonora Bergita mengatakan, … ini mah kalau di Jawa namanya soto. Ada kemiripankah dari rasa?” Eleonora warga Jakarta merupakan mantan jurnalis Majalah Femina yang sering memuat liputan gaya hidup juga kuliner khas Indonesia.

Ditambahkan Adi, pada tahun-tahun awal nasber bertarif Rp150, ya… ditera, seratus lima puluh rupiah. Seiring tahun hingga ke 2019, seporsi nasber dibanderol Rp12.000 itu sudah plus tempe goreng. Harga yang relatif sangat aman di kantong semua penikmat kuliner. Menu ini masih mempertahankan cita rasanya, apalagi bila nasber disaji panas-panas, segera dituangi kecap manis. Petualangan selera sambil mencocol tempe ke sambal tumis berkecap pun diruapi keringat.

Dihampir semua sudut Wonomulyo, pembaca amat mudah menemukan warung yang menjajakan beragam kuliner berbeda. Tapi daya tarik Warung Kartini, yang namanya diberikan oleh kepala dusun satu Sugihwaras, selain harganya yang murah-meriah, juga karena menunjukkan sajian khas berselera. Kini warung semacam Kartini sudah banyak dibuka di beberapa titik. Di sekitar kantor Bupati Polewali Mandar, di Pekkabata terdapat dua warung yang mengusung brand “nasi berenang”.

Next Post

Jarod, Kawasan DPRD Tingkat III Manado

Oleh Adi Arwan Alimin KOTA-kota di negeri ini selalu ditandai komunitasnya. Ini pula yang saya temukan di Manado, Sulawesi Utara. Sabtu, 14 September, bersama komisioner KPU Sulteng Sahran Raden, saya menyambangi spot kuliner di Jalan Roda. Usai penutupan Konregnas Partisipasi Masyarakat semalam, KPU Sulut mengundang coffee morning di sini. Pagi-pagi […]

Subscribe US Now