Workshop Kepenulisan “Generasi Alpha” SMPN 1 Sendana

Workshop Kepenulisan “Generasi Alpha” SMPN 1 Sendana

Advertisements

Oleh Adi Arwan Alimin

“Bila anda bukan anak raja, atau anak ulama besar, menulislah…” demikian kutipan yang terpampang di spanduk workshop kepenulisan OSIS SMPN 1 Sendana, Kabupaten Majene. Kalimat itu disebutkan Imam Al-Ghasali beberapa abad lampau.

Penulis tiba lewat beberapa menit dari jam sembilan pagi. Anak-anak telah menunggu di selasar laboratorium sekolah. Penulis dijemput tuan guru Muhammad Gazali di gerbang sekolah, sahabat sejak masa sekolah dahulu. Pemain bola asal Pambusuang ini telah beberapa tahun mengajar di Somba.

Sejak tahun lalu, kami mendesain agenda workshop kepenulisan. Namun karena masing-masing memiliki jadwal yang padat merayap, satu kwartal akhirnya terlewati. Lalu tibalah undangan via WA untuk datang ke Somba Jumat pagi.

Penulis selalu antusias bila akan bertemu usia dini. Pada merekalah estafet kepemimpinan akan diserahkan, pada merekalah keterampilan dan pengetahuan menulis mesti diwariskan. Kali ini jumlah siswa yang hadir cukup banyak terdiri dari kelas VII hingga IX.

Hampir 120 menit materi mengenai teknik penulisan cerita pendek dipaparkan. Sebenarnya konten ini sudah peserta terima sejak awal, khususnya mengenai faktor ekstrinsik atau intrinsik dalam penulisan sastra di mata pelajaran mereka.

Workshop kepenulisan seperti ini dihadirkan untuk memberi stimulan. Bagaimana daya ungkit proses kreatif anak didik dapat dieksplorasi secara optimal. Mengapa ini urgen sebab setiap orang memiliki cara berbeda dalam berkarya.

Pada tugas atau praktek yang ringkas di kelas pertemuan seperti ini, penulis selalu menemukan mereka yang berbakat. Tidak hanya pada siswa yang mampu bertutur secara logis atau sistematis mengenai pengalaman mereka. Tetapi juga pada lead yang unik hingga memantik kekaguman. Satu-dua siswa tiba-tiba membuat terpana pada teknik mereka menuang gagasan.

Pada siswa yang menyebut diri menyukai kegiatan membaca sejak dini, kita akan selalu menemukan cara bertutur dalam kalimat secara lebih berwarna. Salah seorang siswa di Somba ini bahkan nimbrung di aplikasi Wattpad, di mana ribuan buku tersaji dan orang dapat saling berbagi cerita setiap saat di laman online.

Apa yang menarik pada golongan usia SMP saat ini? Salah satu diantaranya bahwa mereka merupakan generasi pasca level Z dan diantara gen Alpha. Mereka tumbuh dalam limpahan kemajuan informasi teknologi yang makin maju.

Kelompok umur ini seolah tak bisa lepas dari gadget dan aktivitas media sosial. Socialmediaweek.org, melansir 44 persen dari Gen Z (juga Alpha pen) memeriksa media sosial setidaknya setiap jam sekali.

Masihkah workshop seperti masih efektif? Jawabannya tentu saja masih relevan sebagaimana mereka harus tetap datang ke sekolah setiap hari dan menerima siklus pembelajaran dari guru-gurunya.

Tantangannya pada bagaimana metode dan strategi bersua mereka setiap hari. Bagaimana melakukan pendekatan antara kita misalnya yang berasal dari kelompok generasi X, yang lahir antara tahun 1965-1980. Di poin itu kadang kala keluhan bermunculan.

Istilah X pada generasi ini dipopulerkan melalui novel yang berjudul Generation X: Tales for an Accelerated Culture karya Douglas Coupland.

Kemarin, dalam sekian menit penulis juga menyinggung apakah mereka sudah tahu bahwa di Kabupaten Majene akan digelar pemilihan kepala daerah tahun 2020. Sebagian besar sudah mengetahui informasi tersebut, bagi penulis ini relevan sebagai pendidikan pemilih sejak belia.

Itu menunjukkan bahwa kedekatan kelompok umur ini pada perkembangan informasi di daerah mereka juga tergolong cepat. Akses mereka pada teknologi relatif bersahabat. Dari 40-an peserta sebagian besar memiliki handphone atau smartphone, mereka mengacungkan telunjuk saat penulis bertanya.

Itu sebabnya siswa SMP saat ini jangan lagi dianggap tidak mengetahui atau mengikuti perkembangan informasi. Jangan lupa setiap hari sebagian peserta mengakes media sosialnya. Tak sampai dua jam setelah meninggalkan kelas mereka, beberapa siswa telah meminta pertemanan di facebook.

Salah satu kesimpulan dari pertemuan Jumat kemarin, peserta akan mengerjakan penerbitan buku berupa antologi cerita pendek dan puisi mereka. Ini semangat yang mesti disemangati dan di-backup pihak sekolah.

Berbahagialah bila sekolah memiliki talenta muda yang berbakat besar di dunia kepenulisan. Kelak mungkin mereka akan menulis latar sekolah, juga guru-guru mata pelajaran mereka yang antusias mengajar.

Jadi menulislah…

Somba, 21 Februari 2020

error: Content is protected !!